19 January 2013

Contoh Proposal Pengadaan Jaringan


Contoh Proposal Pengajuan Jaringan

1. Latar Belakang
Kemajuan teknologi informasi komputerisasi disetiap aspek kebutuhan saat ini mengharuskan diciptakannya infrastruktur yang dapat menggemban fungsionalitas dari teknologi  informasi tersebut. Pada era globalisasi ini jaringan komputer sangatlah berkembang pesat sehingga menjadi sangat canggih. Banyak perusahaan-perusahaan yang mempunyai fasilitas yang bagus jaringan komputer untuk menarik minat bagi para calon client. Bagi perusahaan sangatlah penting karena tanpa adanya jaringan komputer, maka kinerja sebuah perusahaan akan menurun dan mengakibatkan perusahaan tersebut pailit atau bangkrut.     
Dengan dilakukanya pemasangan jaringan pada suatu perusahan reservasi tiketseseorang tidak perlu lagi berdiri lama untuk antri mendapat giliran pembelian tiket di sebuah loket, sehingga dengan dilakukanya pemasangan jaringan pada perusaahan reservasi tiketsangat  berguna dan sangat menguntungkan sekali bagi para pelanggan atau para pemesan tiket serta perusahaan tersebut.

2.  Tujuan
a. Untuk mempermudah dalam pemesanan tiket.
b.File Server yaitu data storage atau tempat penyimpanan data bagi masing-masingclient/pemakai komputer untuk saling bertukar data baik itu sistem operasi linux maupun windows.
c. FTP yaitu fasilitas yang kami berikan untuk transfer data via web browser sesama rekan kerja yang terhubung ke server
d. Proxy Server salah satu fasilitas yang kami suguhkan untuk filterisasi untuk client yang terkoneksi internet di perusahaan anda, dan juga berfungsi sebagai monitoring client.

3. Teknis Pelaksanaan
1. Pengadaan Komputer Server Dan Client.
2. Pengadaan Perangkat jaringan seperti Switch, Hub, kabel Jaringan, Connector (RJ 45).
3. Instalasi Jaringan dan Juga setting server maupun client.
4. Administrasi Jaringan yaitu perawatan dan operasional seluruh perangkat.


4. Rancangan Anggaran Biaya
Dana                                                                                        Rp 1.500.000.000
Total Biaya                                                                              Rp 1.476.248.600
        _______________ _
Sisa dana                                                                                  Rp  23.751.400

Adapun rincian biaya, sebagai berikut :
a.       PC Server/unit
IBM System X3650M4-B2A     Rp 33.136.400,00
BENQ V2420H LCD Monitor  Rp   4.586.000,00
                                                      _______________ +
Total                                             Rp 37.724.400
Spesifikasi Detail
Platform
 Dual CPU Rack Server
Processor Type
Intel Xeon Processor
Processor Onboard
Intel Xeon E5-2609 (10Mb Cache, 2.40 GHz, 6.40GT/s Intel QPI)
Chipset
Intel® 5520 chipset
Standard Memory
4 GB ECC DDR3- 10600 RDIMM 1333 Mhz ECC unbuffered (8 slots)
Max. Memory
768 GB (24 DIMMs)
Video Type
Integrated Matrox G200e 8 MB
Audio Type
Optional
Speakers Type
Optional
# 1 Controller
IBM ServerRAID M5110e RAID on motherboard, integrated 6 Gbps hardware RAID-0, -1, -10
#1 Floppy Drive
Optional
#1 Hard Drive Type
Optional
#1 Optical Drive Type
DVD±RW SuperMulti
Standard Bays
Sixteen IBM propietary hot-swap 2.5 inch drive bays
Interface Provided
-          USB ports
-          2  front/4 back/2 internal
-          VGA Ports
-          1 front/1 back
Modem
Optional
Networking
Intergrated Four Server Gigabit Ethernet 100/1000
Network Speed
10 / 100 / 1000 Mbps
Wireless Networking
None
Wireless Bluetooth
None
Keyboard Type
Optiopnal
Input Device Type
Optional
Slot Provided
3x PCIe x8, 2x 64-bit/66 or 100 MHz PCI-X®, 1x 32-bit 33 MHz PCI
Cooling Fan
Redundant/hot-pluggable power and redundant fans
Interface Provided
2x PS/2, Serial, 6x USB 2.0 (2 front-accessible), 2 x Gigabit Ethernet (RJ-45), VGA
Compliat Standards
UL, Nemko GS, CB, FCC Class B, BSMI, CCC, CE
O/S Supported
Microsoft® Windows® Server 2008 Standard & Enterprise Edition (x86 & EM64T)
Microsoft® Windows® Server 2003 Standard & Enterprise Edition (x86 & EM64T)
Red Hat® Enterprise Linux 5.0 (x86 & EM64T)
Novell® SuSE® Linux Enterprise Server 10 (x86 & EM64T)
Chassis Form Factor
Tower Rack Mountable (5U)
Power Supply Type
610 watt hot swappable redundant power supply
Chassis Dimension
432 (H) x 210 (W) x 650 (D) mm
Weight
32 kg
Standard Warranty
3-year Limited Warranty, Parts, Labor, Onsite, 24x7 Response Time

b.      PC Client/unit
Acer Aspire M5641 Extreme                 Rp   7.700.000,00
BENQ V2420H LCD Monitor                 Rp   4.586.000,00
                                                                  _______________ +
Total harga                                                Rp. 12.286.000

Total harga untuk 99 PC   Rp 1.216.314.000
Spesifikasi Detail
Platform
Home Multimedia Desktop PC
Processor Type
Intel Core2 Duo Processor
Processor
Intel® Core® 2 Duo E8400 (3.0GHz, 6MB L2 Cache, 1333MHz)
Chipset
NVIDIA® GeForce® 9200
Memory
1Gb DDR2 667Mhz
Video Type
NVIDIA® GeForce® 8600 512MB
Audio Type
Integrated high-definition audio with 7.1-channel
Speakers Type
Integrated 2.0 USB Speaker
Floppy Drive
Optional
Hard Drive
320GB SATA 7200 rpm
Optical Drive Type
DVD±RW
Modem
56K Modem
Networking
Gigabit LAN
Keyboard Type
USB Keyboard
Input Device Type
Optical Mouse
Slot Provided
PCIe x16, PCIe x1, 2x PCI
Card Reader Provided
9-in-1 Media Reader
Interface Provided
9x USB 2.0, Firewire, LAN, VGA, HDMI, Audio
O/S Provided
Microsoft Windows Vista Home Basic
Chassis Form Factor
Mini Tower ATX
Power Supply Type
Data not available
Chassis Dimension (WHD)
455 x 183 x 370 mm
Standard Warranty
1-Year Limited Warranty

c.  Koneksi Jaringan
No
Item
Satuan
Jumlah
Harga Satuan
Jumlah Harga
1
Konektor RJ45
Buah
100
Rp 5.000
Rp  500.000
2
Kabel Belden Original
Meter
3000
Rp 1.200.000
3
HP 2620-24-PpoE+ [J9624A]
Buah
4
Rp 8.203.800
Rp 32.815.200
5
Paralon
Meter
300
Rp 5.000
Rp 1.500.000
Jumlah
Rp 36.015.200

d. Lain-lain
No.
Item
Jumlah
Harga Satuan
Jumlah Harga
1
Meja KomputerAditech ADC1600
100
Rp.875.000
Rp. 8.750.000,-
2
Kursi Fantoni F350
100
Rp.620.000
Rp.62.000.000,-
3
LaserJet 1005
1
Rp 1.205.000,-
Rp 1.205.000,-
4
Printer Canon IP2770
4
Rp. 400.000,-
Rp. 1.600.000,-
5
Spekr. Simbadda CST 9500N
100
Rp 480.000,-
Rp. 48.000.000,-
6
Matsugawa 1000W MotorStabillizer
100
Rp. 230.000,-
Rp. 23.000.000,-
Jumlah
Rp. 144.555.000,-

e.  Alat
No
Nama Alat
Satuan
Jumlah
Harga
Total
1
Tang Crimping KW 1
Buah
2
Rp 150.000
Rp 300.000
2
LAN Tester
Buah
2
Rp 50.000
Rp 100.000
3
Tool Set (Obeng +, obeng -, tang   potong, tang jepit)
Set
2
Rp 95.000
Rp 190.000
4
Gunting
Buah
2
Rp 15.000
Rp   30.000
5
Cutter
Buah
2
Rp 10.000
Rp   20.000
Jumlah
Rp 640.000
f. Technical Support
No
Kebutuhan
Jumlah
Harga
Total
1
Technical Support
5
Rp.8.000.000
Rp.40.000.000
2
Makan dan Snack
5
Rp.200.000
Rp.1.000.000
Jumlah
Rp.41.000.000


pc net.png5.      Rancangan Topologi Jaringan
6.  Penutup
Demikian proposal kerja yang kami susun sebagai tahapan awal untuk bisa memberikan hasil yang terbaik dari segi Teknologi Informasi untuk perusahaan anda. Terima kasih telah menggunakan jasa kami.

Sumber:  http://tidurdilaut.blogspot.com/2011/12/contoh-proposal-pengajuan-jaringan.html

29 October 2012

Manajemen Resiko Pada Perbankan (Internet Banking)


BAB 1
Manajemen Risiko pada Aktivitas Pelayanan Jasa Bank melalui Internet (Internet Banking)

Peran teknologi dalam dunia perbankan sangatlah mutlak, dimana kemajuan suatu sistem perbankan sudah barang tentu ditopang oleh peran teknologi informasi. Tidak dapat dipungkiri, dalam setiap bidang termasuk perbankan penerapan teknologi adalah untuk memudahkan operasional intern perusahaan, juga bertujuan untuk semakin memudahkan pelayanan terhadap nasabah. Apalagi saat ini, khususnya dalam dunia perbankan hampir semua produk yang ditawarkan kepada nasabah serupa, sehingga persaingan yang terjadi dalam dunia perbankan adalah bagaimana memberikan produk yang serba mudah, cepat dan praktis. Penggunaan teknologi informasi (TI) pada bidang perbankan telah terbukti dapat meningkatkan kemampuan bank dalam menyelenggarakan layanannya secara efektif dan efisien, meningkatkan kecepatan proses transaksi, dan meningkatkan kemampuan kompetitif bank.
Bentuk-bentuk produk TI yang biasa digunakan pada bidang perbankan, antara lain, aplikasi Core Banking (aplikasi pemrosesan transaksi), Real Time Gross Settlement (RTGS), Automated Teller Machine (ATM), Internet Banking, SMS Banking, dan lain-lain.
Selain manfaat dan keunggulan yang diperoleh dari penggunaan TI dalam pelaksanaan operasional bank, tentunya terdapat risiko yang dapat menyebabkan timbulnya kerugian pada bank dan nasabah. Risiko yang terkait dengan pemanfaatan TI oleh bank, antara lain, risiko reputasi, risiko operasional, risiko hukum, dan risiko perbankan lainnya seperti likuiditas dan kredit.
Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia no. 9/15/PBI/2007, untuk meminimalkan risiko-risiko potensial dalam penggunaan TI, maka penerapan manajemen risiko, paling kurang, mencakup :
1. Pengawasan aktif dari Dewan Komisaris dan Direksi,
2. Kecukupan kebijakan dan prosedur dalam penggunaan TI,
3. Kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko penggunaan TI,
4. Sistem pengendalian intern atas penggunaan TI.
Dalam hal penerapannya, manajemen risiko harus dilakukan secara terintegrasi di dalam setiap tahapan penggunaan TI dimulai dari proses perencanaan, pengembangan / pengadaan, operasional, pemeliharaan, hingga penghentian dan penghapusan sumber daya TI. Proses manajemen risiko di bank dilakukan, minimal, terhadap aspek-aspek yang terkait pengembangan dan pengadaan TI, operasional TI, jaringan komunikasi, pengamanan informasi, Business Continuity Plan (BCP), end user computing, electronic banking, dan penggunaan pihak penyedia jasa TI (PBI no. 9/15/PBI/2007).
Pelaksanaan audit oleh bank diperlukan untuk mengawasi dan mengendalikan operasional TI, dan bertujuan untuk memastikan bahwa kebijakan dan prosedur penggunaan TI telah tersedia dan dilaksanakan secara memadai. Audit, baik secara internal maupun eksternal, harus mencakup penggunaan TI  yang diselenggarakan sendiri oleh bank maupun oleh penyedia jasa TI.
BAB 2
Contoh Kasus Permasalahan Internet Banking
Meskipun dunia perbankan memperoleh manfaat dari penggunaan internet banking, terdapat pula resiko-resiko yang melekat pada layanan internet banking, seperti resiko strategik, resiko reputasi, resiko operasional termasuk resiko keamanan dan resiko hukum, resiko kredit, resiko pasar dan resiko likuiditas. 
Serangan terhadap kegiatan perbankan online (online banking), adalah  cybercrime. Modus yang pernah muncul di Indonesia dikenal dengan istilah typosite. Modus ini memanfaatkan nasabah yang salah mengetikkan alamat bank online yang ingin diaksesnya. Pelakunya sudah menyiapkan situs palsu yang mirip dengan situs asli bank online (forgery). Jika ada nasabah yang salah ketik dan kesasar di situs bank palsu tersebut, pelaku akan merekam user id dan password nasabah tersebut untuk digunakan mengakses ke situs yang sebenarnya (illegal access) dengan maksud untuk merugikan nasabah.
Contoh kasus :
Masih ingat  pembobolan internet banking milik bank BCA pada tahun 2001? Kasus tersebut dilakukan oleh seorang mantan mahasiswa ITB Bandung dan juga merupakan salah satu karyawan media online (satunet.com) yang bernama Steven Haryanto. Anehnya Steven ini bukan Insinyur Elektro ataupun Informatika, melainkan Insinyur Kimia. Ide ini timbul ketika Steven pernah salah mengetikkan alamat website. Dia telah membuat beberapa situs yang sama persis dengan situs internet banking BCA yang beralamat di www.klikbca.com, seperti: 
wwwklikbca.com
kilkbca.com
clikbca.com
klickbca.com
klikbac.com
Jika masuk ke empat situs itu, Anda akan mendapatkan situs internet yang sama persis dengan situs klikbca.com. Hanya saja saat melakukan login, Anda tidak akan masuk ke fasilitas internet banking bca dan akan tertera pesan "The page cannot be displayed". Fatalnya, dengan melakukan login di situs-situs itu, user name dan PIN internet Anda akan terkirim pada sang pemilik situs.
Karena perbuatannya itu Steven meminta maaf kepada pihak Bank Central Asia (BCA), dan permintaan maaf itu dikirimkan via email kepada BCA, Rabu (6/6/2001) dan ditembuskan pada redaksi detikcom dan Satunet.com.
Dalam pernyataannya, Steven menyatakan menyesal dan mengakui telah menimbulkan kerugian kepada pihak BCA dan pihak pelanggan yang kebetulan masuk ke situs palsu tersebut. Namun Steven menyatakan menjamin bahwa dia tidak pernah dan tidak akan menyalahgunakan data tersebut , dan  juga menyerahkan kembali data user yang didapatkannya kepada BCA. 









Bab 3
Manajemen Risiko Pada Permasalahan Internet Banking

Dalam rangka melakukan pengawasan terhadap perbankan, Bank Indonesia perlu melakukan audit terhadap Sistem Teknologi Informasi dan Komunikasi yang digunakan oleh perbankan untuk setiap kurun waktu tertentu.

Menyadari pentingnya kenyamanan dan keamanan berbagai upaya preventif dan pengamanan internet banking dapat diterapkan seperti :
•  Pemakaian sistem firewall untuk pembatasan akses. Pengamanan berlapis ini, tentu saja ditambah dengan keamanan yang dipunyai oleh setiap nasabah berupa identitas pengguna (user ID) dan PIN. 
•  Program Secure Sockets Layer (SSL) 3.0 dengan sistem pengacakan 128 bit. Pengaman tersebut oleh bank disesuaikan dengan standar internasional.
•  Diberlakukannya fitur two factor authentication, dengan menggunakan token. Penggunaan token ini akan memberikan keamanan yang lebih tinggi dibandingkan bila hanya menggunakan username, PIN, dan password saja.
•  Sosialisasi aktif dari perbankan kepada masyarakat/nasabah dan pegawai perbankan mengenai bentuk-bentuk kejahatan yang dapat terjadi dengan produk/layanan yang disediakannya. 
•  Menambah persyaratan formulir identitas pada waktu pembukaan rekening baru untuk pemeriksaan pada data base yang menghimpun daftar orang bermasalah dengan institusi keuangan. 
•  Penggunaan Perangkat Lunak Komputer Deteksi untuk aktifitas rekening nasabah, agar apabila terjadi kejanggalan transaksi, seperti pengambilan uang nasabah yang melampaui jumlah tertentu, dapat ditangani dengan cepat
•  Standardisasi dalam pembuatan aplikasi Internet Banking. Misalnya, user interface yang mudah dipahami, sehingga user dapat mengambil tindakan yang sesuai.
Meskipun hingga saat ini belum terdapat teknologi yang dapat membuat Internet Banking menjadi aman, akan tetapi pihak perbankan dan pemerintah perlu mengupayakan agar penyelenggaraan Internet Banking yang telah ada, tetap dapat dipergunakan  lebih aman

Tips Menggunakan Internet Banking dengan AMAN 
1.  Jangan pernah mengakses Internet Banking dari komputer umum (Shared Computer) seperti di Warnet atau tempat-tempat umum lainnya. Selalu gunakan Laptop atau komputer pribadi anda. 
2.  Jangan pernah lupa lengkapi Laptop anda dengan Antivirus, Firewall maupun Anti Spyware terbaru untuk memastikan tidak ada program jahat yang akan menyadap setiap aktivitas online anda. 
3.  Sebaiknya hindari mengakses Internet Banking di Hotspot gratis, misal di Mall atau Kampus, namun jika anda terpaksa menggunakan koneksi Wireless pastikan bahwa koneksi anda terenkripsi. 
4.  Cek dan rechek setiap transaksi dari Internet Banking anda, sehingga Anda bisa mengetahui setiap detil dari transaksi dan jika Anda transaksi yang mencurigakan anda bisa langsung melaporkan ke Bank yang bersangkutan. 
5.  Selalu gunakan Password yang kuat dan tidak mudah ditebak oleh orang lain dan mengubahnya sesering mungkin. Gunakan kombinasi huruf dan angka serta hindari menggunakan password yang sama untuk setiap akun online Anda. Misalnya bedakan antara Password Facebook anda dengan Password Internet Banking.   Jangan membuat password yang mudah dikenali, seperti nama istri atau suami atau nama binatang peliharaan Anda. Password dengan angka-angka jauh lebih aman, apalagi bila diselingi dengan karakter seperti * atau #. Tapi angka itu jangan berupa tanggal lahir Anda.
6.  Pastikan Anda selalu Log Out setelah selesai melakukan kegiatan Internet Banking

08 September 2012

IP Address

Struktur IP Address
Pada IPv4 Alamat IP terdiri dari bilangan biner sepanjang 32 bit yang dibagi atas 4 segmen. Tiap segmen terdiri atas 8 bit yang berarti memiliki nilai desimal dari 0 - 255. Luas area dari alamat IP ( range address ) yang bisa digunakan adalah dari 00000000.00000000.00000000.00000000 sampai dengan 11111111.11111111.11111111.11111111. Jadi, ada sebanyak 232 kombinasi address yang bisa dipakai diseluruh dunia (walaupun pada kenyataannya ada sejumlah IP Address yang digunakan untuk keperluan khusus). Jadi, jaringan TCP/IP dengan 32 bit address ini mampu menampung sebanyak 232 atau lebih dari 4 milyar host. Untuk memudahkan pembacaan dan penulisan, IP Address biasanya direpresentasikan dalam bilangan desimal. Jadi, range address di atas dapat diubah menjadi address 0.0.0.0 sampai address 255.255.255.255. Nilai desimal dari IP Address inilah yang dikenal dalam pemakaian sehari-hari.
2.1 Konversi Bilangan Biner, Desimal dan Hexadecimal
Didalam hitungan matematika kita lebih mengenal bilangan desimal ( 0 – 9 ) dibanding bilangan biner ( 1 dan 0 ) atau hexadecimal ( 0 – F ). Disini akan dijabarkan tentang perubahan dari bilangan desimal ke biner atau dari biner ke hexadecimal. Konversi ini dibuat untuk memudahkan pengguna mengetahui struktur IP yang berbasiskan bilangan biner.
2.1.1 Mengubah bilangan desimal ke biner
Cara menghitung bilangan biner dari bilangan desimal adalah dengan metode membagi bilangan desimal dengan bilangan biner sambil memperhatikan hasil sisa pembagian.
Contoh:
(1)192
196
: 2
=
96
sisa 0
96
: 2
=
48
sisa 0
48
: 2
=
24
sisa 0
24
: 2
=
12
sisa 0
12
: 2
=
6
sisa 0
6
: 2
=
3
sisa 0
3
: 2
=
1
sisa 1
Bilangan biner nya adalah angka sisa akhir dibaca dari bawah keatas, yaitu : 11000000, dan untuk pembuktian konversi angka desimal ini bisa dibalik dengan cara merubahnya kembali menjadi bilangan biner.
2.1.2 Mengubah bilangan biner ke desimal
Cara menghitungnya adalah dengan membuat tabel dan memposisikan bilangan biner dengan satuan decimal sebagai berikut. Kemudian nanti jumlahkan angka desimal tersebut berdasarkan bilangan biner yang dimasukkan.
Contoh 1 :
Binary
1
1
0
0
0
0
0
0
Decimal
128
64
0
16
0
0
0
0
Jika bilangan biner 0 maka decimalnya dihitung 0 tapi jika angkanya 1 maka ia dihitung berdasarkan tabel desimal yang dimaksud. Dari tabel diatas didapatkan bilangan biner yang bernilai 1 tepat berada dikolom desimal 128 dan 64 sedangkan angka 0 disini tidak dihitung maka perhitungannya adalah 128 + 64 = 192.
Jadi Konversi dari bilangan biner 11000000 adalah 192
Contoh 2: tabel dibawah adalah bilangan biner 11111111
Biner
1
1
1
1
1
1
1
1
Decimal
128
64
32
16
8
4
2
1
Maka bilangan desimalnya adalah 128 + 64 + 32 + 16 + 8 + 4 + 2 + 1 = 255
2.1.3 Mengubah bilangan biner ke hexadesimal
Untuk mengubah bilangan biner ke hexadesimal, susun bilangan biner menjadi kelompok 4 bit. Mulai pengelompokkan dari bit dari kanan kekiri. Jika jumlah bit kelompok terakhir tidak cukup, tambahkan 0.

Hexadesimal
Biner
0
0000
1
0001
2
0010
3
0011
4
0100
5
0101
6
0110
7
0111
8
1000
9
1001
A
1010
B
1011
C
1100
D
1101
E
1110
F
1111











 3.Pembagian Kelas IP Address
3.2.1IP versi 4 (IPv4)
Kelas IP addressUntuk pembagian kelas IP address saya gunakan standar IPv4 yang terdiri atas 32 bit angka binary. Dapat disimbolkan dengan angka sebagai berikut : Alamat IP yang dimiliki oleh sebuah host dapat dibagi ke dalam dua buah bagian, yakni:
  • Network Identifier atau Network Address (alamat jaringan) yang digunakan khusus untuk mengidentifikasikan alamat jaringan di mana host berada. Semua sistem di dalam sebuah jaringan fisik yang sama harus memiliki alamat Network identifier yang sama. Network identifier juga harus bersifat unik dalam sebuah internetwork. Alamat Network Identifier tidak boleh bernilai 0 atau 255.[2]
  • Host Identifier atau Host address (alamat host) yang digunakan khusus untuk mengidentifikasikan alamat host di dalam jaringan. Nilai Host Identifier tidak boleh bernilai 0 atau 255 dan harus bersifat unik di dalam network identifier di mana ia berada.[2]
Ada 3 kelas address yang utama dalam TCP/IP, yakni kelas A, kelas B dan kelas C. Perangkat lunak Internet Protocol menentukan pembagian jenis kelas ini dengan menguji beberapa bit pertama dari IP Address. Penentuan kelas ini dilakukan dengan cara berikut
1.Kelas A
Struktur kelas A
Ciri-ciri dari kelas A adalah jika bit pertama bernilai 0, kelas ini untuk konfigurasi jaringan yang berskala besar. Dari angka 0 sampai 7 bit berikutnya merupakan bit network dan 24 bit selanjutnya dinamakan bit host. Dengan demikian hanya ada 128 network kelas A, yakni dari nomor 0.xxx.xxx.xxx sampai 127.xxx.xxx.xxx, tetapi setiap network dapat menampung lebih dari 16 juta (2563) host (xxx adalah variabel, nilainya dari 0 s/d 255). Range addressnya mulai dari 1 – 126.
2.Kelas B
Struktur kelas B
Ciri-ciri dari kelas B adalah jika 2 bit pertama bernilai 10, maka 14 bit berikutnya (16 bit pertama) merupakan bit network sedangkan 16 bit terakhir merupakan bit host. Dengan demikian terdapat lebih dari 16 ribu network kelas B (64 x 256), yakni dari network 128.0.xxx.xxx - 191.255.xxx.xxx. Setiap network kelas B mampu menampung lebih dari 65 ribu host (2562). kelas ini untuk konfigurasi jaringan berskala menengah sampai yang berskala besar. Range addressnya mulai dari 128 – 191.
3.Kelas C
Struktur kelas C
Ciri-ciri dari kelas C adalah jika 3 bit pertama bernilai 110, maka 21 bit berikutnya (24 bit pertama) merupakan bit network sedangkan 8 bit terakhir merupakan bit host. Dengan demikian terdapat lebih dari 2 juta network kelas C (32 x 256 x 256), yakni dari nomor 192.0.0.xxx sampai 223.255.255.xxx. Setiap network kelas C hanya mampu menampung sekitar 256 host. kelas ini untuk konfigurasi jaringan berskala kecil. Range addressnya mulai dari 192 – 223.
Selain ke tiga kelas di atas, ada 2 kelas lagi yang ditujukan untuk pemakaian khusus, yakni kelas D dan kelas E. Jika 4 bit pertama adalah 1110, IP Address merupakan kelas D yang digunakan untuk multicast address, yakni sejumlah komputer yang memakai bersama suatu aplikasi (bedakan dengan pengertian network address yang mengacu kepada sejumlah komputer yang memakai bersama suatu network). Salah satu penggunaan multicast address yang sedang berkembang saat ini di Internet adalah untuk aplikasi real-time video conference yang melibatkan lebih dari dua host (multipoint), menggunakan Multicast Backbone (MBone). Kelas terakhir adalah kelas E (4 bit pertama adalah 1111 atau sisa dari seluruh kelas). Pemakaiannya dicadangkan untuk kegiatan eksperimen.
3.2.2 IP versi 6 (IPv6)
Selanjutnya akan dibahas sedikit mengenai IPv6, Berbeda dengan IPv4 yang hanya memiliki panjang 32-bit (jumlah total alamat yang dapat dicapainya mencapai 4,294,967,296 alamat), IPv6 memiliki panjang 128-bit yang total alamatnya mungkin hingga 2128=3,4 x 1038 alamat. Total alamat yang sangat besar ini bertujuan untuk menyediakan ruang alamat yang tidak akan habis (hingga beberapa masa ke depan), dan membentuk infrastruktur routing yang disusun secara hierarkis, sehingga mengurangi kompleksitas proses routing.
IPv6 mengizinkan adanya DHCP Server sebagai pengatur alamat otomatis. Jika dalam IPv4 terdapat dynamic address dan static address, maka dalam IPv6, konfigurasi alamat dengan menggunakan DHCP Server dinamakan dengan stateful address configuration, sementara jika konfigurasi alamat IPv6 tanpa DHCP Server dinamakan dengan stateless address configuration.
Dalam IPv6, alamat 128-bit akan dibagi ke dalam 8 blok berukuran 16-bit, yang dapat dikonversikan ke dalam bilangan heksadesimal berukuran 4-digit. Setiap blok bilangan heksadesimal tersebut akan dipisahkan dengan tanda titik dua (:). Karenanya, format notasi yang digunakan oleh IPv6 juga sering disebut dengan colon-hexadecimal format, berbeda dengan IPv4 yang menggunakan dotted-decimal format. Berikut ini adalah contoh alamat IPv6 dalam bentuk bilangan biner: Untuk menerjemahkannya ke dalam bentuk notasi colon-hexadecimal format, angka-angka biner dibagi ke dalam 8 buah blok berukuran 16-bit:
0010000111011010
0000000011010011
0000000000000000
0010111100111011
0000001010101010
0000000011111111
1111111000101000
1001110001011010


setiap blok berukuran 16-bit tersebut harus dikonversikan ke dalam bilangan heksadesimal dan setiap bilangan heksadesimal tersebut dipisahkan dengan menggunakan tanda titik dua. Hasil konversinya adalah sebagai berikut:
21DA:00D3:0000:2F3B:02AA:00FF:FE28:9C5A

Ilmu Sosial Dasar

test

20 Cara Membuat Artikel SEO Friendly

  20 Cara Membuat Artikel SEO Friendly Menulis artikel dengan baik belumlah cukup. Anda juga harus membuat artikel tersebut ramah mesin penc...